Ujian perasaan, berat-berat...

Pint!

Sudah dua hari belakangan aku merasa deg-degan, deg-degan pasal dilamar orang? Pastinya tidak sama sekali! boro-boro ... (masih berusaha melucu walau garing). Perkara deg-degan ini dihasilkan dari efek menunggu, menunggu pengumuman kelulusan magang ke benua seberang sana, tak mau kusebut negara nya ah, aku malu. Sebab Ini adalah tahun kedua aku mencoba peruntungan, setelah tahun lalu masih belum diberi izin oleh Allah, bagaimana dengan tahun ini? aku masih belum tahu, hatiku ketar-ketir sungguh, makan enak rasanya biasa saja, badan lemas, jantung berdebar lebih kencang dari biasanya, dehidrasi, buang air kecil bolak-balik kayak setrikaan, terus aku hanya bisa melakukan aktivitas B aja alias (biasa aja) seperti : nonton youtube berbagai macam chanel, nonton film, scroll Instagram sampe mual, baca artikel google sampai mata perih, lanjut baca buku yang aku mau saja, lalu tidur-tiduran dari pagi sampai malam, semua itu dilakukan untuk menunggu waktu sholat lima waktu tiba.

PERASAAN ini mirip waktu dulu aku menunggu kelulusan masuk Perguruan Tinggi Negeri/PTN. Rasa nya aneh, semua anggota tubuh seakan ikut-ikutan nurut saja sama hati, padahal yang kontrol kerja tubuh kan otak, terus kenapa karena hati yang gak enak malah semua anggota tubuh juga loyo, aku ora ngerti rek!
Rasa sedih tahun lalu ternyata tidak cukup kuat untuk membuatku berhenti mencoba, kapan lagi aku bisa ke luar negeri gratis kan?!  batinku bicara, ya sekarang mumpung masih ada jatah 1 semester lagi ngampus,  pulang dari luar negeri aku tinggal rampungin penelitian, terus selesaikan bab lanjutan sisa dari seminar proposal kemarin, (lagi-lagi batin ini yang berkata).

Tapi sampai detik aku menuliskan ini, aku juga masih belum mendapat kabar, aku ini lulus atau gak lulus (lagi) sih? Padahal dari jatah yang diberitahukan saat aku mengikuti seleksinya, pengumuman dijadwalkan pada tanggal 19/20 juli, ini sudah hampir masuk tanggal 21 juli, dimana aku genap berusia 22 tahun, tapi masih belum ada kabar, dadaku kembang kempis, berasa sesak, sepertinya oksigen macet di jantung, sehingga aku sulit bernafas, atau malah jantung terlalu banyak menangkap oksigen sehingga jantungku detak nya tak se-kalem biasanya, mbohlah aku ora ngerti lur!

Aku sudah mencoba mengaplikasikan apa yang aku dengar dari ustadz dan dosen, kita itu harus sabar, pasrah kan semua sama Allah, karena Allah yang lebih tahu apa yang pantas untuk kita dapatkan, sebentar hatiku tenang, terus sebentar lagi deg-degan lagi, lha ini gimana gusti? Aku bingung.
Tapi rasanya ini memang unik, aku sedikit bisa merasakan bagaimana rasanya ketika ‘seseorang’ menunggu pengumuman event luar negeri, ya begini ternyata, aku udah tahu. Kalian mau tahu rasanya? Kalian harus coba ikut event internasional biar bisa merasakan hal yang sama, dan aku pastikan, sensasinya gak jauh dari apa yang aku rasakan, mirip teh campur soda, enak-pedes-aneh-nikmat gimanaaa gitu wkwkwk plus lagi aku jerawatan banyak, sekali muncul aja 8, gak selow sekali itu efek yang ditimbulkan, buat aku stress, emang dasarnya punya kulit yang emang dicintai jerawat, hmmmzzz merdekalah ia sekarang merajalela tumbuh sesukanya*

Kalau seandainya aku tidak lulus, berarti Allah udah simpan hadiah lain untukku, hadiah yang membuat aku merasa bersyukur gak di lulusin saat ini, entah di event apapun itu, tapi aku percaya! Percaya kalau pilihan yang dipilihkan sang khalik itu tidak pernah salah.
Tapi biarlah, sedikit jejak rasa tidak enak hati ini menjadi pertanda, kalau aku pernah berada di situasi seperti sekarang ini, dengan menuliskannya.
Walau nanti ketika kenyataan ketidak lulusan itu membuat hati sedih, dan air mata menetes, ya gapapa lah, namanya juga manusia kan, perempuan lagi, yang gampang baperan huhuhu!

Tapi aku yakin, apapun yang akan disampaikan pada pengumuman nanti, besok, lusa, atau gak di umumin sekalipun adalah pilihan dari sang pencipta, walau aku sudah berusaha mempersiapkan semuanya semampu dan sebaiknya, latihan presentasi berhari-hari, buat essay minta koreksi sana-sini, buat CV salah-perbaiki lagi, buat surat sehat ngantri, potokopi nyunat uang jajan lagi, panas-panasan sepedaan ngerjain berkas gono-gini ya sudah dihadapi. Semoga dapat memberikan hikmah yang bisa dipetik buahnya, dan kalau kujabarkan lagi, nguras emosi benar, tapi kan yang dilihat orang Cuma “si iga ikut seleksi tapi gak lulus lagi” tanpa tahu perjuangan dibaliknya, nahan pipis saat presentasi, gagap ngomong satu-dua kosakata yang lupa, ruangan full Ac tapi aku gerah kayak jalan kaki, nahan air mata ketika ditanya tapi salah jawab, dan ngabisin tenaga lari sana-sini, jadi siapapun kita, tetaplah menghargai usaha orang lain dan diri sendiri, selalu. salam sayang dariku, yang sedang ujian perasaan.

Comments